YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Google+ Followers

Rabu, 28 Mei 2014

PEngemis apa PEnipu?

Well, udah lama banget aku gak buka blogger. Kalau ada masa expirednya, udah kadaluarsa kali, ya, ini blog. :))
Sebenernya semangat nulis aku agak menyurut karena terlalu banyak nulis tugas, mau gimana lagi, orang anak sastra.

Tapi aku mau cerita tentang kejadian sekitar 10 menit yang lalu, di depan rumah.

Pintu rumah terbuka lebar seperti biasa kalau lagi hari libur gini. Pasti ada aja yang nongol di pintu pager. Mulai dari yang jual bubur, pengamen, sampai tukang minta-minta. 

Sebenernya aku sama sekali ga benci sama orang-orang yang suka minta-minta, cuma aku ga suka aja sama cara mereka yang seringkali menjengkelkan. Mereka udah sering pake embel-embel yang membuat kita jadi 'terpaksa' ngasih sedekah. Misalnya, tadi ada dua anak kecil, cewek dua-duanya. 

Mereka: "Assalamualaikum.."
Aku: "Waalaikumsalam, ada apa ya?"
M: "Mau minta sedekahnyaaaa, buat anak yatim." (sambil nada ceria, beneran, deh, NADA CERIA!)

Aku langsung cuek aja, bukannya gak mau ngasih, aku gak suka mereka bawa-bawa embel "anak yatim". Aku juga anak yatim, so what?

Aku yang asalnya bersimpati langsung berubah sarcastic. Aku bilang aja "Punten." 
Tapi mereka gak beranjak juga, malah cuek aja nempel-nempel di pager seakan-akan mereka ga denger aku ngomong. Aku yakin mereka ngerti bahasa Sunda.

Terus aku tanya, "Diajarin siapa minta-minta kayak gini?"
And for God sake! Mereka pasang muka mau nangis dong. Aku jadi merasa bersalah, tadinya. Eh, pas mama manggil aku dan bilang "Kasih aja, kalo ga dikasih gak akan pergi-pergi."

Pas aku mau ngasih itu uang, mereka lagi bercanda, doooong. Terus tadi muka mau nangisnya apaan??????

Aku ga suka banget sama cara mereka. Kenapa banyak banget orang Indonesia yang kayak gitu,sih?
Mulai dari balita sampe yang udah ongkek-ongkek, semuanya gitu. Pake cara apapun supaya dikasihani. Padahal aku yakin sebagian besar dari mereka adalah orang yang beragama. Bukankah di agama apa pun mengajarkan "tangan di atas lebih baik" dan tidak boleh berbohong?

Aku gak ngerti dan gak mau ngerti lagi sama orang-orang semacam mereka. Apa gak ada yang ngajarin mereka, bagaimana caranya untuk menilai sesuatu bukan dari nilai mata uangnya, tapi dari kebahagiaan apa yang bisa kita syukuri dari setiap esensi zat yang udah diberikan oleh Tuhan?

Orang yang minta-minta begitu mungkin hanya berpikir uang.. uang.. dan uang.
Sampai recehan pun mereka pungut. 
Mereka merusak citra dari "orang-orang susah" jadi "penipu" di mata aku, mungkin di mata sebagian orang juga.
Aku jujur sekarang sama sekali gak bisa bedain, mana pengemis yang bener-bener butuh bantuanm sama pengemis yang hatinya jelek kayak yang aku ceritain di atas.
Aku sekarang cuma bisa berharap semoga generasi ke depan orang-orang lebih bisa mendidik keturunan mereka dengan lebih baik. 


Sumber gambar: http://educationalexperimentalist.com/wp/wp-content/uploads/2012/12/2012_12_03_educate.jpeg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar